Senin, 08 Oktober 2018

Info Toa Surau Kami

Mesjid Raya Bangkinang
Judulnya plesetan Robohnya Surau Kami oleh AA Navis, ya? Ini alasannya yaitu ada kesamaan esensi cara kita memandang mesjid. AA Navis antara lain bertutur bahwa orang tidak seharusnya menghabiskan sepanjang waktunya beribadah di mesjid, tapi juga mempunyai kewajiban duniawi, terutama terhadap keluarganya. Demikian pula dengan si toa ini. Dia yaitu usul untuk beribadah, yang seharusnya menciptakan orang senang, bukannya malah terganggu. Analoginya tidak nyambung? Wah maaf ya, tapi kira-kira setiap benda yang berada dirumah ibadah sebaiknya kita perlakukan sewajar
fungsinya, tidak berlebihan.
TOA bergotong-royong yaitu sebuah brand perangkat audio, yang dijaman dulu mendominasi brand corong pengeras bunyi mesjid. Dulu bentuknya besar berwarna biru bau tanah kusam, cenderung abu-abu. Namun kemudian, dengan perbaikan design dan kualitas, bentuknya menjadi lebih bervariasi, lebih kecil dan warnanya bermacam-macam.
Di Jawa, corong tersebut umumnya dipakai untuk kelurahan, sekolahan, program keluarga dan tentu saja mesjid. Namun kemudian, kelurahan, dan acara-acara keluarga memakai peralatan yang lebih modern contohnya wireless microphone atau bahkan menyewa dalam bentuk set termasuk speaker. Corong toa ini, entah mengapa tetap bertahan sebagai pengeras bunyi mesjid. Mungkin alasannya yaitu jangkauannya yang luas, tidak perlu bolak-balik menyetel equalizer, pengoperasiannya sederhana dan lebih awet.
Setelah saya dewasa, saya gres tau kalau toa itu tidak hanya brand corong pengeras suara. Memang benar, toa yaitu brand perangkat audio, namun range produknya sangat luas dan termasuk modern, contohnya mikropon untuk ruang rapat, announcer microphone untuk pabrik, speaker, bahkan telepon PABX. Sewaktu di Batam, untuk membeli dalam jumlah besar, bahkan harus mendatangi suppliernya di Singapura.
Bahwa kemudian toa menjadi sumber persoalan bagi banyak orang, juga gres saya sadari sehabis tergabung di facebook dan twitter dua tahun ini. Ketika masih tinggal di Jawa, meskipun berkali-kali pindah, tapi rumah saya tidak terlalu bersahabat dengan mesjid. Selain itu, toa di Jawa hanya berkumandang di waktu adzan dan sholat Jum’at. Volume suaranya-pun sedang saja. Bagi saya yang waktu itu masih polos, tidak memikirkan orang lain ataupun kebutuhan orang dewasa, apapun yang keluar dari mesjid itu pastilah baik, termasuk suara.
Setelah saya dewasa, saya-pun menyadari bahwa orang cukup umur yang seharian mencari nafkah diluar rumah, perlu waktu untuk istirahat. Suara yang dibutuhkan keluar dari mesjid yaitu panggilan sholat. Setelah itu, apapun yang terjadi di dalam mesjid, dibutuhkan hanya didengar oleh yang sedang beribadah didalamnya saja.
Setelah saya pindah ke Sumatra, beda jadinya. Di lingkungan daerah saya tinggal, meski halaman rumah luas, dan banyak rawa-rawa, namun mesjid lebih gampang dijumpai, kemungkinan ada disetiap RT. Toa disini bersuara tiga kali lipat volume bunyi toa di Jawa. Benar-benar keras! Corong disini bersuara setiap ada program di mesjid, contohnya sholat, wirid, berguru ngaji, bahkan juga ibu-ibu latihan rebana. Iya, meskipun sedang latihan rebana, masih mengepas-ngepaskan suara, belum tampil yang sebenarnya.
Pada awalnya saya benar-benar kaget. Ibaratnya ibarat ada yang sedang berbicara tapi pas didepan indera pendengaran saya. Jangankan tidur, berpikir-pun tidak bisa, bicara dengan orang rumah-pun harus dengan volume tinggi untuk menandingi bunyi corong tersebut. Padahal saya sulit berbicara dengan volume yang konstan tinggi. Tapi kemudian saya putuskan untuk bersabar dan beradaptasi. Karena itu yaitu kebiasaan masyarakat disini yang berbicara-pun bersuara keras. Bahkan jikalau menggelar pesta, yang biasanya diadakan dirumah dengan mendirikan tenda, musik Melayu dan dangdut baik live maupun rekaman dapat mengalun dari jam 09.00-24.00.
Saya memutuskan tidak memprotes siapapun. Saya menerimanya sebagai keragaman budaya, bukan sesuatu yang norak, melanggar hak asasi insan atau melanggar toleransi. Toleransi memang menganjurkan dominan menghargai minoritas. Tapi dalam hal ini, saya berusaha memandang dari sudut terbaiknya saja bahwa sebagai minoritas tidak ada salahnya menunjukkan kesempatan pada dominan untuk menjalankan kebiasaannya. Sesuatu yang dipandang mengganggu oleh seseorang kan tidak harus terasa mengganggu pula bagi orang lain, terutama jikalau itu sudah menjadi kebiasaan yang dapat saja malah mendatangkan kenyamanan bagi mereka. Itu toleransi juga, bukan?
Nah selama bulan Ramadhan ini, toa akan berkumandang mulai jam 18.00 (maghrib jam 18.25), dimulai dengan ceramah radio yang diterus-pancarkan melalui toa, pembacaan Al-Qur’an di radio yang diterus-pancarkan melalui toa, ucapan selamat berbuka oleh pejabat-pejabat pemerintah di radio yang diterus-pancarkan melalui toa, adzan, sholat maghrib, isya, tarawih, dan diakhiri dengan tadarus hingga jam 24.00 setiap hari. Meriah, ya?
Begitulah, ibarat pepatah Melayu mengatakan, lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya.

Info Toa Surau Kami Rating: 4.5 Diposkan Oleh: anton
Terima kasih sudah berkomentar