Senin, 08 Oktober 2018

Info Kuliner Melayu Rm Yessy Siak Nan Ramah

Alamat: Jl. Sultan Ismail – Siak Sri Indrapura (seberang Istana Siak)
Sudah dua kali saya berkunjung ke Siak dan makan di dua rumah makan yang berbeda. Dua-duanya pas dilidah saya. Sayangnya, saya lupa letak rumah makan yang pertama kali saya kunjungi, yang berdasarkan saya sangat yummy meski sederhana. Akhirnya saya mampir di rumah makan yang gampang dicari saja, yaitu di seberang Istana Siak.
Ketika datang, saya juga keheranan alasannya yaitu sama menyerupai rumah
makan sebelumnya, saya eksklusif disambut seorang ibu-ibu yang sangat ramah. Mungkin standar pelayanan disana ya, menyerupai makan dirumah sendiri tapi bayar heheheee…
Jenis masakannya hampir sama, hanya di rumah makan yang pertama dulu cenderung ke citarasa Padang, sedangkan di RM Yessy lebih ke citarasa Melayu. Meski demikian, dibandingkan dengan rumah makan serupa di Pekanbaru, kuliner Siak sangat pas di pengecap saya, yaitu pedas tapi tidak menyengat dan kaya bumbu. Masakan Siak juga tampak lebih fresh dibandingkan kuliner Pekanbaru yang menyerupai kelamaan di kuali.
Menu di RM Yessy ini tidak banyak pilihan, seputar makhluk air dan ayam. Karena letaknya yang tepat dipinggiran sungai Siak, saya eksklusif menanyakan udang. Udang-pun tiba dengan banyak sekali style. Ada udang kecil-kecil yang dioseng dengan sambal. Ada udang goreng tepung dan rebus yang disusun dengan tusuk sate. Meski udang yang disusun dengan tusuk sate itu cukup besar-besar, tapi tidak sebesar udang sungai Kampar yang harganya mencapai Rp 70,000 per ekor. Udang di RM Yessy enak dan gurih, meskipun masih kalah dengan yang di sungai Kampar. Bandingannya jikalau rasa udang RM Pertemuan Dagang dari sungai Kampar bertahan di lisan sampai 3 jam, rasa udang di RM Yessy dari sungai Siak sanggup bertahan dalam 1 jam.
Di RM Yessy tidak ada hidangan sayur, atau mungkin waktu itu sudah habis. Tapi disediakan lalapan dedaunan yang saya tidak tahu namanya. Waktu itu sudah bertanya, tapi kini lupa lagi namanya. Saya tidak mencobanya, alasannya yaitu bentuk lalapan tersebut mencurigakan, terlalu hijau, menyerupai bergetah, takut pahit. Meskipun ibu tadi mencoba meyakinkan saya bahwa lalapan tersebut segar dimakan bersama udang, tapi saya tetap tidak mencobanya.
Saya juga mencoba ikan patin yang diberi kuah gulai. Sebenarnya saya tidak suka ikan patin, alasannya yaitu dari pengalaman biasanya dalamnya masih merah. Ikan patin itu menyerupai ikan lele hanya dagingnya tebal, sehingga jikalau dimasak, kadang panas tidak sanggup menembus kedalam daging dengan sempurna. Dan memang saya dapati dalamnya kurang matang.
Total pengeluaran untuk 4 orang sekitar Rp 170,000. Cukup masuk nalar berdasarkan saya. Setelah membayar, gres saya ingat bahwa buah pisang dimeja yang saya makan, belum dihitung. Ternyata, kata ibu itu, pisang tersebut gratis, tidak bayar menyerupai di RM Padang. Saya-pun nyeletuk, “Wah tahu gitu makan agak banyak.” Eh, si ibu bilang, pisang itu dibawa pulang juga tidak apa-apa kok, begitu juga dengan lalapan tadi. Untuk menjaga kesopanan, pisangnya saya bawa pulang setengah sisir saja.
Satu hal lagi persamaan antara RM yang dulu saya datangi dengan RM Yessy yaitu penataan meja kursi. Meski warungnya sederhana, meja dan dingklik ditutup kain hias selayaknya meja dan dingklik di daerah kondangan. Kondangan tapi bayar heheheee…

Info Kuliner Melayu Rm Yessy Siak Nan Ramah Rating: 4.5 Diposkan Oleh: anton
Terima kasih sudah berkomentar